Top

MENYUSURI CAGAR BUDAYA JEMBATAN MERAH

 

 

Sebagai kota Pahlawan, Surabaya memiliki banyak bangunan tua berarsitektur kolonial Belanda. Sebab sejak dulu kota Surabaya yang letaknya dekat dengan laut, menjadi wilayah yang di anggap penting oleh kaum kolonial. Makanya Surabaya memiliki banyak  gedung tua bekas masa penjajahan, yang sekarang ini statusnya sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (dilindungi).

Salah satu sudut Surabaya yang memiliki banyak bangunan cagar budaya penting adalah wilayah Jembatan Merah. Di lokasi ini setidaknya ada 4 titik cagar budaya yang paling terkenal yaitu Taman Jayengrono (Willemsplein), Gedung Internatio, Gedung Cerutu, dan hotel Arcadia. Keempat titik ini letaknya memang saling berdekatan. Sebelum membahas satu persatu keempat  lokasi cagar budaya tadi, ada baiknya kita kupas dulu cerita tentang Jembatan Merah itu sendiri.

JEMBATAN MERAH

Jembatan Merah dibentuk atas kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC sejak 11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda. Jembatan ini Dibangun pada pemerintahan Daendels. Dan dikenal sebagai Roodeburug, jembatan yang penting bagi perekonomian Surabaya. kawasan itu dulu disebut Willem Plein. Sebagai jalur utama berlalu-lalangnya perahu-perahu dagang dan tempat berlabuh orang-orang cina.

 

                                                                                     Jembatan Merah – Surabaya. Image: dokumen pribadi


Dulunya kawasan itu ramai sebelum pelabuhan Tanjung Perak selesai dibangun tahun 1910. Di sebelah barat Jalan Jembatan Merah (Willenstraat) dan Jalan Rajawali (Heerenstraat), dipenuhi pedagang besar Eropa. Tak heran jika maskapai dan bank-bank kebanyakan berada di wilayah ini. Sementara kawasan timur jembatan diperuntukkan bagi warga Asia, seperti Tionghoa, Arab, dan Melayu. Jaman dulu kawasan Jembatan Merah merupakan kawasan elit, yang menjanjikan banyak keuntungan bagi para pengusaha asing khususnya tionghoa. Makanya gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.

 

                                                          Jembatan Merah – Surabaya. Image: dokumen pribadi

Semula mereka mendiami Chinese Kamps atau Kampung Cina, di sebelah timur Kali Mas. Jalan-jalan yang didiami warga Tionghoa itu antara lain Chinesevorstraat (jalan Karet), dan Hendelstraat (jalan Kembang Jepun). Dimasa revolusi jembatan merah menjadi saksi bisu kematian para pejuang kita maupun tentara Belanda. Di tempat ini juga Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam (Internatio) tewas terbunuh di tangan arek-arek Suroboyo. Jembatan Merah ini pun menjadi saksi bisu pertempuran 10 November 1945 di Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA yang hendak menguasai Surabaya kembali.

Jembatan Merah mulai berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatasnya dengan sungai diubah dari kayu menjadi besi. Kini kondisi jembatan yang menghubungkan Jalan Rajawali dan Jalan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya itu, hampir sama persis dengan jembatan lainnya. Pembedanya hanyalah warna merah pada catnya saja.

TAMAN JAYENGRONO (Willemsplein)

Taman jayengrono di kawasan jembatan merah ini diresmikan 31 Desember 2012 oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, pada pukul 09.00. Nama taman ini di ambil dari nama bupati pertama di surabaya. Taman ini dibuat untuk mengenang semanggat perjuangan arek-arek surabaya pada pertempuran dahsyat di kawasan jembatan merah. Taman Jayengrono ini luasnya 5.300 meter persegi. Letaknya bersebelahan dengan terminal Jembatan Merah, dan Jembatan Merah plaza. Saat peresmian selain acara penandatanganan prasasti oleh Walikota, juga diwarnai pembubuhan cap tangan oleh 15 pejuang kemerdekaan.

   Taman Jayengrono – Surabaya. Image: dokumen pribadi.

Taman Jayengrono merupakan taman tertua di Surabaya. Keberadaan taman ini erat kaitannya dengan kantor keresidenan. Dulunya terletak di depan taman, di mana kantor residen ini dibangun ini pada masa pemerintahan Daendels (1808-1811), diduga taman ini sudah ada sejak abab ke XIX. Makanya taman kota ini menjadi taman tertua diantara taman-taman yang ada di surabaya. Taman Jayengrono dikenal juga sebagai Taman Sejarah.

GEDUNG INTERNATIO

Awalnya Gedung Internatio (Internationale Crediten Handelvereeniging) adalah sebuah perusahaan (semacam Asosiasi Komersial dan kredit Internasional “Rotterdam”). Dulunya gedung ini tempat pengelolaan perdagangan di masa penjajahan Belanda. Gedung Internatio terletak di sudut jalan Heerenstraat dan Willemsplein, yang sekarang disebut jalan Jayengrono. Tepatnya berada di dekat Jembatan Merah Plaza dan terminal Jembatan Merah.

   Gedung Internatio – Surabaya. Image: dokumen pribadi.


Gedung Internatio sendiri didirikan pada 1927 dan rampung pada 1931, penggarapnya adalah biro arsitek AIA Aristech (Algemeen Ingenieurs en Architecten Bureau). Arsiteknya pada masa itu adalah Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels, arsitek terkenal yang juga perancang Rumah Sakit “Onder de Bogen” di Yogya (kini Panti Rapih) dan Stasiun Kota Jakarta. Awalnya Gedung Internatio merupakan markas Pasukan Komandan Brigade ke-49 Inggris, yang mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945.

          Gedung Internatio – Surabaya. Image: dokumen pribadi.

 

Banyak peristiwa penting yang berkaitan dengan gedung ini. Salah satunya adalah peristiwa Mallaby, dimana Brigjend Mallaby komandan pasukan sekutu terbunuh oleh ledakan granat yang di lempar pejuang kemerdekaan. Di perkirakan lokasi terbunuhnya Brigjend Mallaby berada di taman Jayengrono (sebelah gedung Internatio). Peristiwa inilah yang kemudian memicu penyerangan kota surabaya dari segala sisi pada tgl 10 nopember 1945.

  Gedung Internatio – Surabaya. Image: dokumen pribadi.

 

GEDUNG CERUTU

Bangunan Gedung Cerutu ini didirikan sekitar tahun 1916 oleh N.V. Maatschappij Tot Exploitatie van Het Technish Bureau Gebroeders Knaud. Dikenal dengan sebutan Gedung Cerutu karena menaranya mirip dengan cerutu. Dahulu tempat ini di tempati oleh perusahaan gula. Gedung Cerutu letaknya bersebelahan dengan Hotel Ibis (sekarang Arcadia). Gedung Cerutu merupakan salah satu gedung tua yang unik dikarenakan bentuk menaranya yang menonjol.

  Gedung Cerutu – Surabaya. Image: dokumen pribadi.


Meskipun bangunan utamanya berpola simetris sempurna di bagian depan, namun Gedung Cerutu hanya memiliki sebuah menara yang bentuknya menyerupai batang cerutu, Gedung Cerutu memiliki pintu masuk lengkung setengah lingkaran di bagian atasnya, kemudian di apit oleh dua lengkung yang lebih kecil dan pendek. Di bagian bawah terdapat dua pasang jendela persegi tinggi dengan sedikit lengkung di bagian atasnya, sementara jendela di lantai dua gedung Cerutu ini berbentuk kotak-kotak penuh.

                                                     Gedung Cerutu  Surabaya. Image: dokumen pribadi.

 

HOTEL ARCADIA (IBIS)

Hotel Arcadia (dulunya hotel Ibis) ini dibangun pada tahun 1913 oleh kontraktor Hollanndsche Beton Maatschaij (sebelumnya kantor Geo Wehry & Co) salah satu perusahaan perkebunan terbesar di Indonesia ketika itu. Lokasi hotel ini berada di sebelah gedung cerutu atau di depan gedung Internatio (Internationale Crediten Handelsvereeniging Rotterdam). Perusahaan Geo Wehry & Co (sejak tahun 1867) beroperasi di Hindia Belanda. Kegiatan utamanya bergerak di bidang perkebunan. Perusahaan ini mempunyai 28 perkebunan di Hindia Belanda, dengan komoditi antara lain teh, kina dan karet, dan melakukan perdagangan dalam negeri maupun luar negeri. NV Geo Wehry & Co juga termasuk dalam The Big Five (lima perusahaan raksasa milik Belanda) selain Internatio, Lindeteves, Borsumij dan Jacobson van den Berg & Co.

    Hotel Arcadia (dulu hotel Ibis). Image: dokumen pribadi.

 Denah gedung Geo Wehry & Co berbentuk persegi empat, dan memanjang ke belakang. Bagian depan gedung digunakan untuk kantor, sedangkan pada bagian belakang dipakai untuk gudang. Pada bagian gudang inilah yang sekarang dibangun menjadi bangunan hotel bertingkat 9 setinggi 30 meter dan merupakan bangunan baru, sedangkan bagian muka (depan) dimodifikasi untuk lobby maupun fasilitas hotel lainnya. Di bagian depan memiliki gaya arsitektur kolonial awal abad 20. Hal inilah yang membuat gedung ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/004/402.1.04/1998 dengan nomor urut 61.

     Hotel Arcadia (dulu hotel Ibis). Image: dokumen pribadi.

 

Melakukan wisata sejarah dikawasan Jembatan Merah memang seru dan menyenangkan. Agar perjalanan wisata cagar budaya kita tidak terganggu oleh flu dan batuk karena cuaca Surabaya yang  panas, jangan lupa bawa MIXAGRIP. Bagi saya pribadi MIXAGRIP selalu bisa diandalkan, karena MIXAGRIP…..cocok!!! Yuk #CeritaSamaMixagrip.

 

Catatan: materi penunjang diambil dari berbagai sumber. Image: dokumen pribadi.

#CeritaSamaMixagrip

Aminah Surabaya

aminahsurabaya@gmail.com



Keluarga Sehat, Liburan ke Tretes Kami Selamat

Apa sih yang paling ditakutkan oleh orang yang sudah merencanakan sebuah liburan jauh-jauh hari? Benar yaitu jika dia sendiri atau salah satu anggota keluarganya jatuh sakit. Itulah sebabnya saya selalu deg-degan menjelang satu minggu sebelum acara liburan dimulai. Kejadian ini saya alami sendiri akhir November 2017 lalu saat berencana akan berlibur ke Tretes. Bisa dikatakan baru pertama kali inilah saya, istri, dan si kecil berlibur dengan durasi cukup lama (4 hari) dan cukup jauh dari rumah. Selama ini jika berlibur tak lebih dari quick escape, berangkat pagi dan malam sudah tiba kembali di rumah. Sebenarnya quick escape bukanlah sesuatu yang menyenangkan karena hanya bikin capek dan justru lebih banyak menghabiskan waktu di jalan daripada di tempat wisata. Itulah sebabnya akhir November lalu kami berencana berlibur ke Tretes. Sesungguhnya momen itu bukanlah sekedar acara jalan-jalan atau berwisata semata tetapi ada acara lain yaitu lomba ketangkasan yang harus saya ikuti. Tiket lomba ketangkasan nan mahal pun sudah berada di tangan saya yang sudah saya beli beberapa bulan sebelumnya. Jadi acara liburan saat itu mirip peribahasa, sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui.

Sebulan sebelumnya, saya sudah memesan tiket hotel dan kereta api.  Saya juga sudah mengisi saldo ojek online buat persiapan jika tidak menemukan angkutan umum. Seminggu sebelum berangkat semua pakaian termasuk snack juga sudah dimasukkan ke dalam dua buah tas besar. Pokoknya kami semua sudah sangat siap untuk berangkat berlibur. Akan tetapi rupa-rupanya apa yang saya takutkan akan menjadi kenyataan. Cuaca bulan November yang sangat basah membuat daya tahan tubuh istri saya menurun. Dia sepertinya sedang menunjukkan gejala akan terkena flu. Langsung saya pikiran macam-macam pun bermunculan di kepala saya. Bagaimana jika sampai acara liburan ini batal? Yang pertama sudah sangat jelas tiket lomba ketangkasan saya akan hangus. Ini jelas bukan berita bagus karena harganya yang lumayan mahal. Apalagi event ini baru kali ini diselenggarakan di Jatim sehingga saya tidak perlu mengeluarkan ongkos transport yang besar jika lomba diselenggarakan di luar Jatim. Yang kedua tiket hotel yang sudah saya pesan lewat aplikasi bakalan hangus dan jumlahnya juga tidak kecil. Yang ketiga tiket kereta api sama saja nasibnya pasti akan hangus. Yang keempat sudah pasti akan mengecewakan si kecil karena si kecil sudah lama sekali mengharapkan bisa berlibur bersama-sama kami. Benar-benar sebuah gambaran buruk.

Jelang 3 hari dari hari H, istri saya cuma tiduran di atas kasur dengan hidung meler dan selalu mengeluhkan kepala pusing. Istri saya termasuk orang yang pelit banget minum obat jadi walaupun sakit dia selalu menolak minum obat. Pernah dia mau minum obat tetapi ternyata cuma berpura-pura saja. Semua obat yang sudah saya berikan ternyata hanya disimpan di bawah bantalnya. H-2 istri belum juga bisa bangun dari ranjang dan bersamaan dengan itu level kecemasan saya semakin memuncak tetapi saya tetap tidak bisa membujuknya untuk minum obat. H-1 waktu semakin mepet dan saya sudah pasrah jika rencana liburan yang sudah lama ditunggu-tunggu akan gagal total. Malam hari menjelang tidur sekali lagi saya membujuk istri supaya minum obat dan mungkin entah karena dia sudah tidak tahan dengan flu yang dideritanya atau sudah bosan tiduran di atas ranjang atau entah sudah malas mendengar rayuan dan rengekan saya agar dia mau minum obat, dia akhirnya mau minum juga. Cuma masalahnya adalah saya tidak punya obat flu! Skenarionya sih sebenarnya kalau istri mau minum obat maka saya akan segera membelinya di warung sebelah tetapi berhubung saat itu sudah malam mana ada warung buka? Akan tetapi saya ingat jika ibu saya punya stok obat-obatan di kulkas. Ibu saya memang sering sakit dan keluar masuk klinik maka beliau punya koleksi obat yang lumayan banyak. Saya pun segera membongkar stok obat ibu saya dan voila saya menemukan Mixagrip. Kemasan kertasnya sudah agak lecek karena rupanya sudah agak lama tetapi kemasan aluminium foilnya masih bagus. Saya baca tanggal expired-nya masih cukup lama. Akhirnya obat ini saya berikan kepada istri buat diminum dan saya pastikan benar dia memang meminumnya. Setelah itu saya cuma berharap semoga besok pagi ada keajaiban. 

Pagi pun datang tanpa terasa. Rupa-rupanya Mixagrip telah membuat istri saya bisa tidur nyenyak (termasuk saya yang tidak terganggu olehnya). Berbeda dengan dua hari sebelumnya dimana dia sering terbangun malam-malam karena tidak nyaman tidur. Apakah pagi itu ada keajaiban? Saya masih belum bisa memastikannya karena saya buru-buru shalat subuh. Usai shalat saya masih tidak tahu hari itu akan jadi seperti apa. Untuk menghabiskan waktu saya coba membuka-buka media sosial di ponsel. Tak lama berselang istri pun bangun dan dia pun cepat-cepat shalat subuh. Selesai shalat dia duduk di samping saya dan mengatakan hal yang membuat hari itu mendadak menjadi penuh kepastian dan menghapus semua bayangan buruk saya. Betul bahwa istri saya merasa lebih baik walaupun belum sembuh 100%. Saya benar-benar bersyukur dan spontan saya pun segera membangunkan si kecil agar bersiap-siap berangkat liburan. Pukul 9 pagi pun kami sudah berangkat ke stasiun.

Pukul 12 kami tiba di stasiun Bangil dalam cuaca sangat panas terik. Saya mencoba melihat ke arah selatan dimana wilayah Tretes berada. Ada mendung kelabu di kejauhan. Berarti saya harus mencoba secepat mungkin tiba di sana. Rupa-rupanya angkutan umum yang menuju Tretes sangat langka. Akhirnya terpaksa saya memesan ojek online dan begitu memasuki Pandaan mendung tebal menggantung. Saat memasuki Tretes pun hujan deras mengguyur. Sialnya ojek saya tidak membawa jas hujan. Hawa dingin pegunungan dan hujan benar-benar membuat tubuh saya serasa beku. Untungnya ojek istri dan si kecil membawa jas hujan. Selama berlibur di Tretes 4 hari kami digempur hujan habis-habisan. Begitu lewat pukul 12 hujan pun mengguyur sampai malam. Kami hanya memiliki sedikit waktu menjelajahi wisata yang ada yaitu air terjun Kakek Bodo padahal sebenarnya masih banyak obyek wisata menarik lainnya. Akan tetapi meskipun sebentar kami memiliki kenangan indah bersama yang takkan pernah kami lupakan sampai kapanpun juga. Selama berada di Tretes saya selalu membawa Mixagrip untuk berjaga-jaga jika istri atau saya terkena flu di tengah hempasan cuaca buruk. Syukurlah kami selalu sehat hingga kami pulang ke rumah. Semua itu salah satunya berkat Mixagrip yang ampuh melawan flu. Coba kalau saat itu istri saya masih menolak minum Mixagrip, bisa jadi liburan kali ini hanya akan tinggal mimpi selamanya.

#CeritaSamaMixagrip
Susilo Ahmadi
susiloahmadi@hotmail.com