Top
Keluarga

Cocok Mana? Anak Penurut Atau Dewasa

Alihkan susah menurutnya anak menjadi perilaku tumbuh dewasa

Sebagai orang tua, tentu Anda sering dihadapkan pada situasi dimana anak menolak mengikuti kemauan Anda. Padahal Anda merasa bahwa apa yang Anda inginkan adalah yang terbaik untuknya. Kesal rasanya, tapi tetap harus menahan diri agar tidak terjadi kontak fisik. Lalu bagaimana baiknya menghadapi situasi demikian? Dan apakah anak yang tidak menurut adalah sebuah kesalahan?

Mungkin hal pertama yang sebaiknya Anda ingat adalah bahwa setiap anak memiliki jalan hidupnya sendiri. Hal ini tentu bukan berarti kita membiarkan begitu saja apapun yang terjadi dalam hidup anak, karena sebagai orang tua kita berperan penting sebagai pembimbing. Lalu bagaimana cara membimbing yang baik? Jawabannya tentu kembali pada keinginan kita sebagai orang tua akan jenis anak yang bagaimana yang ingin kita lihat saat dia tumbuh besar nanti. Jika ingin melihat anak yang penurut, Anda bisa gunakan model ‘kusir dan kuda delman’. Ingin ia belok kanan, maka belokkan ke kanan. Ingin belok kiri, maka belokkan ke kiri. Tapi jangan menyesal jika kelak ia tidak mengenal pilihan hidup yang selama ini ada dan tumbuh tanpa inisiatif. Ia juga akan kesulitan dalam mengambil keputusan hidupnya sendiri.

Tapi Anda tak perlu panik, karena solusinya cukup mudah. Anda hanya perlu membiasakan dia dengan pilihan pembanding sejak kecil. Misalnya, saat ia ingin arum manis padahal kita tahu hal itu kurang baik. Kita bisa berikan pilihan pembanding yang kita tahu juga akan memikat hatinya, misalnya tempat pensil bergambar tokoh superhero kesukaannya. “Deva mau arum manis atau kotak pensil jagoan?”. Mungkin ia tidak akan langsung memilih kotak pensil tersebut, namun dengan membiasakan dia dengan pilihan pembanding, kita terus melatih dia untuk berperilaku dewasa dalam mengambil keputusan. Dan yang penting, keputusan akhir tetap ada pada diri anak, demi kesiapan dia menghadapi dunianya.

 

Seberapa Seringkah Cocoknya Mengganti Seprei?

Tips kebersihan rumah akan hal yang seringkali luput dari pikiran kita

Coba ingat-ingat kapan terakhir kali Anda mengganti seprei tempat tidur? Minggu lalu? Bulan lalu? Atau seprei tersebut satu-satunya yang Anda miliki? Eww. Tahukan Anda jika seprei merupakan salah satu tempat ‘terkotor’ di dalam rumah? Seprei Anda, meskipun terlihat selalu bersih, merupakan tempat dimana tungau debu, bakteri, dan jamur tumbuh subuh. Masak sih?

Profesor Kesehatan dan Lingkungan dari University of Salford, Dr Lisa Ackerley, menjelaskan betapa kotornya seprei kita. Sisa keringat, sel-sel, bahkan setengah ons kulit kita luruh setiap pekan. Semuanya menempel di atas seprei. "Lingkungan lembap juga jadi tempat berkembang biak yang ideal untuk tungau debu. Tempat tidur rata-rata mengandung 10 juta tungau debu yang dapat memicu reaksi alergi," kata Dr. Ackerley.

Direktur Klinis Mikrobiologi dan Imunologi dari New York University's Langone Medical Center, Philip Tierno, juga mengungkap bahwa banyaknya sel kulit mati, keringat, dan kotoran lain di seprei tidak menutup kemungkinan adanya bakteri jahat. Misalnya bakteri fecal pada Ecoli yang berbahaya. Belum lagi jika Anda memiliki kebiasaan makan di atas tempat tidur atau bermain bersama hewan peliharaan disana.

Lalu bagaimana baiknya? Tierno menyarankan untuk mengganti seprei setiap satu atau dua pekan sekali. Dengan demikian pertumbuhan mikroorganisme bisa dihambat. Anda juga bisa mempraktikkan tips dari Dr. Ackerley. Buka jendela setiap pagi, kebas dan lipat selimut, letakkan di bagian kamar yang terkena sinar matahari. Ini membantu melepaskan uap air dan mencegah kelembapan. Nah, tunggu apalagi. Yuk kita bersih-bersih rumah dan ganti seprei tempat tidur.

sumber: https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/kapan-harus-mengganti-seprei