Top
Kata Dokter

SuperUser Account
/ Categories: Kata Dokter

WASPADA FLU DI MUSIM PANCAROBA

Kita sering mendengar musim pancaroba sebagai musim yang perlu diwaspadai.  Musim ini adalah musim peralihan dari satu musim ke musim yang lain, biasanya terjadi pada bulan Maret sampai April (peralihan dari musim hujan ke musim kemarau) dan pada bulan Oktober sampai Desember (peralihan dari musim hujan ke musim kemarau). Musim pancaroba ditandai dengan angin kencang, hujan yang datang secara tiba-tiba dalam waktu singkat, puting beliung, udara yang terasa panas, serta arah angin yang tidak teratur. Nah, perubahan cuaca ini kerap dikaitkan dengan berbagai jenis penyakit yang muncul seperti flu, batuk, sakit kepala dan lainnya. Lantas, bagaimana perubahan cuaca ini dapat menimbulkan penyakit-penyakit tersebut?


Infeksi saluran pernafasan merupakan infeksi terbanyak di dunia, dan sangat mempengaruhi ekonomi secara bermakna, termasuk didalamnya adalah selesma dan flu. Selama ratusan tahun dipercaya bahwa seseorang dapat mengalami selesma atau flu setelah terpapar pada cuaca dingin. Tidak heran penyakit ini dahulu kala diberi nama ‘common cold’ karena dianggap berhubungan terpaparnya tubuh dengan cuaca dingin (cold). Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan diketahui bahwa viruslah yang menyebabkan terjanya selesma dan flu, namun tidak dapat dipungkiri bahwa paparan dingin terhadap tubuh dapat mempengaruhi terjadinya selesama atau flu. Beberapa teori mengemukakan paparan dingin menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah pada hidung/saluran pernafasan yang mengakibatkan tidak lancarnya aliran darah dan sel-sel pertahanan di area tersebut tidak cukup tersedia sehingga mudah terinfeksi (Mudd &Grant - 1919 dan Andrewes - 1965). Penelitian berikutnya membuktikan suhu dingin dan kelembaban rendah terbukti  meningkatkan resiko selesma dan flu.

Penularan virus flu terjadi melalui bersin dan batuk, hal ini dapat menyebarkan virus yang sangat kecil dari ukuran diameter 0,1 – 10 mikrometer. Sejauh ini faktor lingkungan yang berperan dalam penyebaran virus flu ini adalah suhu dan kelembaban udara. Saat udara kering, partikel virus akan membelah dan menjadi partikel-partikel kecil yang mudah menyebar.  Bisa dibayangkan saat bersin, membuang ingus dan membuang tissue bekasnya sebarangan begitu banyak partikel virus yang menyebar dan bertahan lama di udara. Tingkat penularan yang lebih tinggi terjadi pada kondisi yang lembab dan padat. Namun perlu diingat bahwa faktor cuaca hanya merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penyebaran flu, dan virusnya sendiri memiliki masa/musim pertumbuhan bervariasi sesuai musim yang dapat menyebabkan virus bisa bertahan lebih lama sesuai cuaca dan lingkungan. Akhir-akhir ini dunia diperingatkan akan efek dari perubahan iklim yang menyebabkan memanjangnya perubahan musim dan terjadinya cuaca ekstrim yang menjadi ancaman terhadap kesehatan dan meningkatkan masalah kesehatan yang sudah ada. Manusia sebagai individu juga mengalami dampak tersebut sehingga perlu dilakukan tidakan yang proaktif untuk memahami pola perubahan iklim dan pengaruh terhadap kesehatan manusia. Termasuk didalamnya adalah promosi gaya hidup sehat dan deteksi dini gangguan kesehatan akibat perubahan iklim ini. Hal pencegahan tetap menjadi prioritas yaitu dengan menghindari kontak langsung dengan penderita flu, rajin mencuci tangan terutama sesudah menggunakan fasilitas umum seperti bus, kereta api, lift dan toilet. Jika sedang menderita flu sebaiknya gunakan masker untuk menghindari penularan ke orang lain, buang dahak, ingus dan tissue bekas pada tempatnya. Jadi waspada terhadap perubahan musim dan jaga daya tahan tubuh supaya tidak mudah sakit, namun jika terlanjur sakit flu segera lakukan pengobatan simptopatik untuk mempercepat recovery dan mencegah terjadinya penyakit yang lebih berat. 

Previous Article FLU, PILEK ATAU SINUSITIS?
Next Article MENYIKAPI FLU SAAT IBADAH PUASA
Print
202 Rate this article:
5.0

Please login or register to post comments.

x